Senin, 12 Oktober 2009

Menumbuhkan Sikap Tajdid dalam Diri Guru Muhammadiyah

Sistem pendidikan nasional kita dalam satu dasawarsa belakangan ini mengalami banyak perkembangan yang ditandai dengan banyaknya perubahan yang cukup drastis terhadap beberapa komponen pendidikan -khususnya di sekolah, seperti perubahan kurikulum, perubahan standar kualifikasi guru maupun perubahan sistem manajemen sekolah yang semula bersifat sentralistik menjadi desentralistik dengan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS). Perubahan-perubahan tersebut pada gilirannya menuntut kesiapan sekolah beserta sumber daya manusianya untuk menyesuaikan dan memenuhi segala ketentuan yang telah ditetapkan demi peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Akan tetapi, dalam realitasnya tidak sedikit sekolah -khususnya sekolah Muhammadiyah, dan SDMnya merespon perubahan dengan sangat lambat bahkan cenderung enggan beranjak dari apa yang telah ada sebelumnya dengan berbagai alasan, seperti kesulitan dalam implementasinya, kurangnya dana maupun belum siapnya guru dan kepala sekolah sebagai ujung tombak pelaksana kebijakan pendidikan di sekolah. Perubahan kurikulum misalnya, menuntut guru untuk mengupdate kemampuan dan ketrampilannya dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Akan tetapi dalam kenyataannya masih banyak guru yang melaksanakan proses pembelajaran dengan metode-metode konvensional, bersifat teacher centered dan cenderung mengabaikan kreatifitas siswa dalam belajar. Demikian pula dalam hal perubahan standar kualifikasi dan sertifikasi guru, banyak guru yang memilih untuk menempuh dengan cara-cara instant, seperti menempuh studi lebih cepat dari yang seharusnya hanya untuk mendapatkan ijazah S1 sebagai standar kualifikasi akademik guru, atau membeli sertifikat-sertifikat pelatihan untuk bisa memenuhi cum untuk portofolio dalam sertifikasi guru. Proses instant yang dipilih oleh guru ini seolah mengabaikan arti penting dari proses dalam belajar dan mengukur pembelajaran hanya dari hasilnya saja, padahal idealnya yang terpenting dari pembelajaran adalah prosesnya. Maka tidak heran jika masih banyak guru di sekolah yang mengukur keberhasilan pembelajaran siswa di kelas lebih pada hasilnya (nilai ujian) ketimbang proses belajarnya sehari-hari.
Melihat kondisi di atas, ada baiknya kita bercermin pada organisasi Muhammadiyah dengan watak yang menjadi ciri dari organisasi tersebut yaitu tajdid, sebuah watak yang menuntut untuk selalu bersifat dinamis, progresif, melakukan pembaharuan dan perubahan untuk mampu beradaptasi dengan segala perkembangan zaman. Namun sayangnya, watak tajdid yang melekat pada Muhammadiyah belum banyak menginspirasi warganya -khususnya guru, untuk memiliki watak yang sama, yang mampu melakukan pembaharuan dan perubahan ke arah yang lebih baik. Menurut Newstrom & Davis, terdapat beberapa alasan penolakan atau keengganan seseorang terhadap perubahan, di antaranya : (a) waktu yang diperlukan untuk menyesuaikan diri, (b) upaya ekstra untuk belajar kembali, (c) kemungkinan timbulnya sesuatu yang tidak diinginkan, (d) kerugian ekonomi, (e) rendahnya toleransi terhadap perubahan, dan (f) kebutuhan akan rasa aman, sehingga cenderung menginginkan status quo. Alasan-alasan tersebut, diakui atau tidak memang sedang menyerang sebagian besar guru-guru di Muhammadiyah sehingga mereka enggan melakukan perubahan dan pembaharuan.
Untuk dapat menumbuhkan watak tajdid dalam diri guru Muhammadiyah ada banyak hal yang dapat dilakukan, di antaranya (1) senantiasa melakukan refleksi terhadap apa yang telah dilakukan di sekolah sebagai bentuk evaluasi untuk melihat kelebihan dan kekurangan dari apa yang telah dilakukan dan menjadikan aktifitas mengajar sebagai proses belajar bagi guru. (2) mengupdate ketrampilan dan kemampuan, baik dengan mengikuti pelatihan-pelatihan maupun menempuh studi lanjutan dengan proses yang seharusnya sebagai upaya peningkatan kualitas kerja. (3) beradaptasi dengan perkembangan zaman, salah satunya perkembangan teknologi. Guru harus mampu menguasai dan mengambil manfaat dari teknologi, minimal mampu mengakses internet, karena dari internet guru bisa mendapatkan berbagai referensi yang dapat digunakan baik sebagai bahan ajar, maupun dalam penentuan metode, strategi bahkan menjadikannya sebagai media pembelajaran. Jangan sampai guru kalah langkah dengan muridnya yang sudah mahir memanfaatkan internet untuk belajar. (4) melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran, baik dari segi bahan ajar, metode, strategi maupun media, agar proses pembelajaran tidak berlangsung monoton dan membosankan bagi siswa, sehingga siswa lebih tertarik dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.
Beberapa hal di atas akan terasa berat untuk dijalankan jika kesadaran akan arti penting perubahan belum tertanam dalam diri para guru di sekolah Muhammadiyah. Mari kita bercermin pada sekolah-sekolah Muhammadiyah yang berkualitas yang pastinya memiliki SDM -baik kepala sekolah, guru maupun karyawan, yang dinamis, inovatif, progresif dan mau berubah ke arah lebih baik, yang memahami betul akan arti tajdid sebagai ruh gerakan organisasi yang membesarkannya. Dengan spirit fastabiqulkhairat mari kita tumbuhkan watak tajdid dalam diri guru-guru Muhammadiyah agar pendidikan Muhammadiyah dapat mencapai tujuannya membentuk manusia muslim yang berkualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar